Laman

Selasa, 08 Oktober 2013

Jaya Prana dan Layonsari


                                   
Dua orang suami istri bertempat tinggal di Desa Kalianget mempunyai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Oleh karena ada wabah yang menimpa masyarakat desa itu, maka empat orang dari keluarga yang miskin ini meninggal dunia bersamaan. Tinggalan seorang laki-laki yang paling bungsu bernama I Jayaprana. Oleh karena orang yang terakhir ini keadaannya yatim piatu, maka ia puan memberanikan dirimengabdi di istana raja. Di istana, laki-laki itu sangat rajin, rajapun amat kasih sayang kepadanya.
Kini I Jayaprana baru berusia duabelas tahun. Ia sangat ganteng paras muka tampan dan senyumnya pun sangat manis menarik.
Beberapa tahun kemudian.
Pada suatu hari raja menitahkan I Jayaprana, supaya memilih seorang dayang-dayang yang ada di dalam istana atau gadis gadis yang ada di luar istana. Mula-mula I Jayaprana menolak titah baginda, dengan alasan bahwa dirinya masih kanak-kanak. Tetapi karena dipaksan oleh raja akhirnya I Jayaprana menurutinya. Ia pun melancong ke pasar yang ada di depan istana hendak melihat-lihat gadis yang lalu lalang pergi ke pasar. Tiba-tiba ia melihat seorang gadis yang sangat cantik jelita. Gadis itu bernama Ni Layonsari, putra Jero Bendesa, berasal dari Banjar Sekar.
Melihat gadis yang elok itu, I Jayaprana sangat terpikat hatinya dan pandangan matanya terus membuntuti lenggang gadis itu ke pasar, sebaliknya Ni Layonsari pun sangat hancur hatinya baru memandang pemuda ganteng yang sedang duduk-duduk di depan istana. Setelah gadis itu menyelinap di balik orang-orang yang ada di dalam pasar, maka I Jayaprana cepat-cepat kembali ke istana hendak melapor kehadapan Sri Baginda Raja. Laporan I Jayaprana diterima oleh baginda dan kemudian raja menulis sepucuk surat.
I Jayaprana dititahkan membawa sepucuk surat ke rumahnya Jero Bendesa. Tiada diceritakan di tengah jalan, maka I Jayaprana tiba di rumahnya Jero Bendesa. Ia menyerahkan surat yang dibawanya itu kepada Jero Bendesa dengan hormatnya. Jero Bendesa menerima terus langsung dibacanya dalam hati. Jero Bendesa sangat setuju apabila putrinya yaitu Ni Layonsari dikawinkan dengan I Jayaprana. Setelah ia menyampaikan isi hatinya “setuju” kepada I Jayaprana, lalu I Jayaprana memohon diri pulang kembali.
Di istana Raja sedang mengadakan sidang di pendopo. Tiba-tiba datanglah I Jayaprana menghadap pesanan Jero Bendesa kehadapan Sri Baginda Raja. Kemudian Raja mengumumkan pada sidang yang isinya antara lain: Bahwa nanti pada hari Selasa Legi wuku Kuningan, raja akan membuat upacara perkawinannya I Jayaprana dengan Ni Layonsari. Dari itu raja memerintahkan kepada segenap perbekel, supaya mulai mendirikan bangunan-bangunan rumah, balai-balai selengkapnya untuk I Jayaprana.
Menjelang hari perkawinannya semua bangunan-bangunan sudah selesai dikerjakan dengan secara gotong royong semuanya serba indah. Kini tiba hari upacara perkawinan I Jayaprana diiringi oleh masyarakat desanya, pergi ke rumahnya Jero Bendesa, hendak memohon Ni Layonsari dengan alat upacara selengkapnya. Sri Baginda Raja sedang duduk di atas singgasana dihadap oleh para pegawai raja dan para perbekel baginda. Kemudian datanglah rombongan I Jayaprana di depan istana. Kedua mempelai itu harus turun dari atas joli, terus langsung menyembah kehadapan Sri Baginda Raja dengan hormatnya melihat wajah Ni Layonsari, raja pun membisu tak dapat bersabda.
Setelah senja kedua mempelai itu lalu memohon diri akan kembal ke rumahnya meninggalkan sidang di paseban. Sepeninggal mereka itu, Sri Baginda lalu bersabda kepada para perbekel semuanya untuk meminta pertimbangan caranya memperdayakan I Jayaprana supaya ia mati. Istrinya yaitu Ni Layonsari supaya masuk ke istana dijadikan permaisuri baginda. Dikatakan apabila Ni Layonsari tidak dapat diperistri maka baginda akan mangkat karena kesedihan.
Mendengar sabda itu salah seorang perbekel lalu tampak ke depan hendak mengetengahkan pertimbangan, yang isinya antara lain: agar Sri Paduka Raja menitahkan I Jayaprana bersama rombongan pergi ke Celuk Terima, untuk menyelidiki perahu yang hancur dan orang-orang Bajo menembak binatang yang ada di kawasan pengulan. Demikian isi pertimbangan salah seorang perbekel yang bernama I Saunggaling, yang telah disepakati oleh Sang Raja. Sekarang tersebutlah I Jayaprana yang sangat brebahagia hidupnya bersama istrinya. Tetapi baru tujuh hari lamanya mereka berbulan madu, datanglah seorang utusan raja ke rumahnya, yang maksudnya memanggil I Jayaprana supaya menghadap ke paseban. I Jayaprana segera pergi ke paseban menghadap Sri P aduka Raja bersama perbekel sekalian. Di paseban mereka dititahkan supaya besok pagi-pagi ke Celuk Terima untuk menyelidiki adanya perahu kandas dan kekacauan-kekacauan lainnya. Setelah senja, sidang pun bubar. I Jayaprana pulang kembali ia disambut oleh istrinya yang sangat dicintainya itu. I Jayaprana menerangkan hasil-hasil rapat di paseban kepada istrinya.
Hari sudah malam Ni Layonsari bermimpi, rumahnya dihanyutkan banjir besar, ia pun bangkit dari tempat tidurnya seraya menerangkan isi impiannya yang sangat mengerikan itu kepada I Jayaprana. Ia meminta agar keberangkatannya besok dibatalkan berdasarkan alamat-alamat impiannya. Tetapi I Jayaprana tidak berani menolak perintah raja. Dikatakan bahwa kematian itu terletak di tangan Tuhan Yang Maha Esa. Pagi-pagi I Jayaprana bersama rombongan berangkat ke Celuk Terima, meninggalkan Ni Layonsari di rumahnya dalam kesedihan. Dalam perjalanan rombongan itu, I Jayaprana sering kali mendapat alamat yang buruk-buruk. Akhirnya mereka tiba di hutan Celuk Terima. I Jayaprana sudah meras dirinya akan dibinasakan kemudian I Saunggaling berkata kepada I Jayaprana sambil menyerahkan sepucuk surat. I Jayaprana menerima surat itu terus langsung dibaca dalam hati isinya:
“ Hai engkau Jayaprana
Manusia tiada berguna
Berjalan berjalanlah engkau
Akulah menyuruh membunuh kau

Dosamu sangat besar
Kau melampaui tingkah raja
Istrimu sungguh milik orang besar
Kuambil kujadikan istri raja

Serahkanlah jiwamu sekarang
Jangan engkau melawan
Layonsari jangan kau kenang
Kuperistri hingga akhir jaman.”

Demikianlah isi surat Sri Baginda Raja kepada I Jayaprana. Setelah I Jayaprana membaca surat itu lalu ia pun menangis tersedu-sedu sambil meratap. “Yah, oleh karena sudah dari titah baginda, hamba tiada menolak. Sungguh semula baginda menanam dan memelihara hambat tetapi kini baginda ingin mencabutnya, yah silakan. Hamba rela dibunuh demi kepentingan baginda, meski pun hamba tiada berdosa. Demikian ratapnya I Jayaprana seraya mencucurkan air mata. Selanjutnya I Jayaprana meminta kepada I Saunggaling supaya segera bersiap-siap menikamnya. Setelah I Saunggaling mempermaklumkan kepada I Jayaprana bahwa ia menuruti apa yang dititahkan oleh raja dengan hati yang berat dan sedih ia menancapkan kerisnya pada lambung kirinya I Jayaprana. Darah menyembur harum semerbak baunya bersamaan dengan alamat yang aneh-aneh di angkasa dan di bumi seperti: gempa bumi, angin topan, hujan bunga, teja membangun dan sebagainya.
Setelah mayat I Jayaprana itu dikubur, maka seluruh perbekel kembali pulang dengan perasaan sangat sedih. Di tengah jalan mereka sering mendapat bahaya maut. Diantara perbekel itu banyak yang mati. Ada yang mati karena diterkam harimau, ada juga dipagut ular. Berita tentang terbunuhnya I Jayaprana itu telah didengar oleh istrinya yaitu Ni Layonsari. Dari itu ia segera menghunus keris dan menikan dirinya. Demikianlah isi singkat cerita dua orang muda mudi itu yang baru saja berbulan madu atas cinta murninya akan tetapi mendapat halangan dari seorang raja dan akhirnya bersama-sama meninggal dunia.


Jumat, 05 Oktober 2012

Novel - novel yang isinya menyedihkan

1. Surat Kecil Untuk Tuhan

     Menceritakan tentang seorang gadis yang bernama Gita Sesa Wanda Cantika seorang penderita kanker ganas yang menyerang bagian wajah, Rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak pertama di Indonesia. Keke atau Gita Sesa Wanda Cantika adalah seorang gadis remaja berusia 13 tahun ketika divonis memiliki penyakit kanker mematikan tersebut yang dapat membunuhnya dalam waktu 5 hari. Kanker jaringan lunak itu menggerogoti bagian wajahnya sehingga terlihat buruk menjadi seperti monster. Walau dalam keadaan sulit, Keke terus berjuang untuk tetap hidup dan tetap bersekolah layaknya gadis normal lainnya.  Mendengar vonis tersebut, sang Ayah, Joddy Tri Aprianto tidak menyerah. Ia terus berjuang agar sang putri kesayangannya itu dapat terlepas dari vonis kematiannya. Perjuangan sang ayah dalam menyelamatkan putrinya tersebut begitu mengharukan.

Perjuangan panjang Keke dalam melawan kanker ternyata membuahkan hasil. Kebesaran Tuhan membuatnya dapat bersama dengan keluarga serta sahabat yang ia cintai lebih lama. Keberhasilan Dokter Indonesia dalam menyembuhkan kasus kanker yang baru pertama kali terjadi di Indonesia ini menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus membuat semua dokter di dunia bertanya-tanya.

Namun kanker itu kembali setelah sebuah pesta kebahagiaan sesaat. Keke sadar jika nafasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak marah pada Tuhan, ia justru bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernafas lebih lama dari vonis 5 hari bertahan hingga 3 tahun lamanya, walau pada akhirnya ia harus menyerah. Dokter pun akhirnya menyerah terhadap kankernya. Di nafasnya terakhir itulah ia menuliskan sebuah surat kecil untuk Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada lagi air mata di dunia ini terjadi padanya, terjadi pada siapapun.

                                          

2. 3600 detik

     1 tahun setelah orang tua sandra bercerai hidup sandra berubah total,karena orang yang sangat ia adalkan di hidup nya telah pergi meninggalkan dia seorang diri,orang yg di maksad adalah papanya,karena dai tidak akrab dengan mamanya dari kecil karena beberapa alasan....sebelum mereka kedua orang tuany berpisah mereka membuat kesepakatan yaitu anak meraka(Kasandra(nama lengkapny))diminta untuk tinggal bersama mamanya di Indonesia,karena mamanya ingin menjalin hubungan yang terputus selam beberapa tahun silam...

setalah 1 tahun mereka terpisah sandra dan ibunya banyak mengalami kejadian demi kejadian,sandra berubah menjadi anak yang tidak perduli dengan lingkung sekitarny,berbuat ulah di sekolah,dugem sampai pagi,dll dan pada akhirnya dia di pindahkan oleh mamanya ke sekolah di kota Bandung mamanya berfikir mungkin di tempat baru di lingkung yang baru mereka dapat hidup bahagia,tetapi sayangnya sandra tidak berbubah sama sekali....

hari pertama dia masuk ke sekolahnya yang baru di Bandung ia bertemu dengan seseorang di ruang musik pemuda itu bernama Leon...pada awal mereka bertemu sandra tidak menghiraukannya....
selang beberapa bulan mereka berteman karena Leon ngotot ingin berteman dengan sandra meskipun sandra menolaknya....

Leon adalah anak seorang Dokter ternama di Bandung dari kecil ia menderita sakit kelainan Jantung...hidupnya tak begitu menyenangkan karena ia harus ngtrol kesehatannya di rumah sakit tempat ayahnya berkerja...namun setelah ia bertemu dengan sandra hidupnya berubah total,sekarang hidupnya penuh akan canda tawa....


setelah hal itu berlangsung cukup lama akhirnya mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa Leon meninggal dunia karena panyakit yang ia derita....sabelum Leon meningal,dia dan Kasandra pergi ketaman bermain hal yang pertama kalinya bagi Leon dan hal yang untuk terakhir kalinya bagi Leon....selama 3600 detik mereka berdua menghabiskan waktu bersama sungguh hal yang sangat berarti bagi Leon,Leon sangat bahagia karena ia dapat merasakan hidup...namun sayangnya pada saat kritis dan dalam perjalan ke rumah sakit Leon susadah pergi menghadap "TUHAN".....kesedihan yang mendalam bagi Kasandra dan keluarga Leon yang tidak kuasa menahan air mata dan kenyataan.....

1 tahun setelah Leon meninggal Kasandra datang ke pemakaman Leon dan bercerita bahwa ia sekarang kuliah di universitas Kedokteran di Bandung....

 

Senin, 25 Juni 2012

Lawakan Pintar Ala Stand Up Comedy


  


"Saya heran kenapa yang namanya kesurupan selalu menyerang cewek-cewek SMA. Kenapa nggak sekali-kali kesurupan itu menyerang cowok-cowok STM. Pasti kayaknya takut tuh jin kesurupan. Atau kenapa yang namanya mistis dan hantu-hantu itu harus selalu gayanya yang tua-tua banget. Kenapa nggak ada yang sekali-kali gaul gitu, kayak gimana Cin? Ayo Bro?"
Kata-kata dan cerita itu yang dilontarkan Mosidik, comic (sebutan untuk peserta atau pelaku stand up comedy—Red) di Comedy Cafe, di Kemang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, membuat sejumlah orang yang sedang enak-enaknya menikmati minum dan makan sedikit tersedak.
Suasana menjadi begitu riuh dengan tawa terbahak-bahak. Selanjutnya tepuk tangan pengunjung memberikan aplaus kepada pria bertubuh subur itu. Gelak tawa gaduh terus terdengar saat Ernest, Ryan, dan Akbar menuturkan cerita lucu.
Ya, mereka adalah orang-orang yang mulai mengobarkan komedi monolog atau lebih dikenal dengan stand up comedy. Sejumlah definisi yang muncul di masyarakat, stand up comedy adalah melawak sendiri dengan berbagai gaya, tampil modis, dan banyak bermain dengan kata-kata.
"Sampai saat ini, definisi itu yang sudah ada. Sebenarnya, kalau ditelaah jauh ke belakang awal munculnya stand up comedy di Eropa dan Amerika komedi seperti ini memang bentuk monolog karena sendiri dan lebih jauh disebut sebagai lawakan yang pintar.
Memainkan kata-kata, spontanitas ide, dan bahannya jauh lebih intelektual. Tidak sekadar lawakan berbentuk kelompok yang menampilkan jenis slapstik," kata Ramon P Tommybens, pemilik Comedy Cafe, sekaligus orang yang mempopulerkan stand up comedy di Indoensia.
Penjelasan dari Ramon itu tidak meleset dengan apa yang disaksikan Warta Kota saat berjam-jam berada di Comedy Cafe maupun acara kompetisi Stand Up Comedy Indonesia Kompas layar kaca. Seluruh bahan yang dijadikan cerita lucu, rupanya hanya sedikit guratan pena disobekan kertas.
Sejurus kemudian, si comic akan bercerita dengan mengalir dari tema yang sebenarnya mendadak muncul hanya sekian jam atau belasan menit sebelum naik ke atas panggung.
Ada yang ceritanya dari pengalaman soal menjalani rumah tangga selama lebih dari lima tahun. Ada pula pengalaman ketika "menembak" cewek untuk jadi pacar atau calon istri.
Bahkan ada yang sedikit menyenggol masalah ras, seperti cerita milik Ernest, yang merasa ada untung-ruginya 
saat dilahirkan sebagai keturunan Tionghoa.

Pembelajaran
Sebagai jenis pertunjukan komedi yang terbilang baru di Indonesia, tema-tema atau bahan stand up comedy sifatnya agak menyerang, menyindir, dan mengungkapkan kekurangan diri si comic.
"Kalau tema-tema itu sebenarnya memang sudah cukup atau sangat biasa di Eropa dan Amerika. Namun, untuk di Indonesia dengan budaya ketimuran yang kental mungkin masih agak sulit. Bisa saja ada pihak yang tersinggung dan tidak terima," kata Ramon.
Hal senada juga diungkapkan oleh Mosidik, Akbar, dan Ernest. Mereka mengaku sedikit khawatir ketika bahan dan tema diceritakan di depan banyak orang akan memancing emosi.
"Secara spontan, kami harus bisa cari banyak bahan dan tema yang jauh lebih universal, Salah satu pilihannya bisa dengan cerita sehari-hari yang pernah dialami atau mengumbar kekurangan diri. Mosidik yang cerita soal orang berbadan gemuk," kata Akbar yang meluncurkan cerita humor bertema pendidikan.
Menurut Ramon, dari sisi komedi, stand up comedy sudah jadi pilihan orang banyak di Indonesia sebagai alternatif hiburan. Hanya saja masih dibutuhkan banyak pembelajaran tentang rasa humor yang baik.
"Kondisi budaya di Indonesia, maka sekarang ini aku masih memberikan banyak mentoring tentang bahan dan tema. Usahakan jangan terlalu frontal atau keras saat menyentil dan menyerang. Sering-sering menghindari yang sifatnya ras dan agama," kata Ramon.
Bahkan saat hadir di depan mahasiswa yang ingin tahu soal komedi ini, Ramon memberikan catatan penting, jangan sebut benda atau bentuk apa pun yang keluar dari seluruh lubang tubuh manusia. Termasuk lubang yang jadi sarana pembuangannya. Hal itu masih dianggap sesuatu yang menjijikkan dan jorok, dan belum cocok untuk kondisi di Indonesia.
Stand up comedy
Stand up comedy adalah seni melawak (komedi) yang disampaikan di depan penonton secara langsung (live). Biasanya sang komedian akan melakukan one man show. Melemparkan lelucon melalui monolog atau statement dalam satu kalimat yang mengandung humor.
Komedian di jalur ini biasanya menulis skrip lawakannya untuk tampil dalam 20-45 menit. Kadang-kadang mereka memakai alat bantu untuk menyampaikan lelucon mereka.
Meskipun stand up comedy, pelawak tidak harus terus menerus berdiri. Beberapa pelawak menyampaikan sambil duduk seperti sedang bercerita pada kita.
Sejarah stand up comedy dimulai pada abad ke-18 di Eropa dan Amerika. Dalam sejarahnya perkembangan stand up comedy juga ditemui di berbagai benua.
Bahkan Malaysia punya seorang stand up comedy terkenal, Akmal Saleh. India punya Jhony Lever dan dilanjutkan Cyrus Broacha. Mereka juga mengadakan The Great Indian Laughter Challenge.
Chris Rock, yang dikenal sebagai aktor komedi di Hollywood, ternyata masuk dalam kategori stand up comedy.
Dalam sejumlah situs, ada tema dalam lawakannya banyak kata-kata yang seharusnya di sensor, rasis, dan seksi. Tapi komedi jenis ini masih disebut sebagai humor cerdas.
Dalam sejumlah situs ditemukan genre stand up comedy bukan hal baru di Indonesia. Dulu ada Taufik Savalas (Alm) dengan acara Comedy Cafe yang pernah tayang di TransTV periode Juli-September 2004.
Ada juga Pepeng yang sambil membawakan acara kuis Jari-Jari menyelipkan humor segar. Disambung dengan Iwel di acara DemoCrazy.
Meskipun belum bisa dikatakan melakukan stand up comedy murni, namun jensi ini sudah jadi awalan di perkembangan stand up comedy di Indoensia kala itu. (cel/wik)

Minggu, 24 Juni 2012

Sejarah Kebun Raya "Eka Karya Bedugul"

Berawal dari gagasan Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo, Direktur Lembaga Pusat Penyelidikan Alam yang merangkap sebagai Kepala Kebun Raya Indonesia, dan I Made Taman, Kepala Lembaga Pelestarian dan Pengawetan Alam saat itu yang berkeinginan untuk mendirikan cabang Kebun Raya di luar Jawa, dalam hal ini Bali. Pendekatan kepada Pemda Bali dimulai tahun 1955, hingga akhirnya pada tahun 1958 pejabat yang berwenang di Bali secara resmi menawarkan kepada Lembaga Pusat Penyelidikan Alam untuk mendirikan Kebun Raya di Bali.
Berdasarkan kesepakatan lokasi Kebun Raya ditetapkan seluas 50 ha yang meliputi areal hutan reboisasi Candikuning serta berbatasan langsung dengan Cagar Alam Batukau. Tepat pada tanggal 15 Juli 1959 Kebun Raya “Eka Karya” Bali diresmikan oleh Prof. Ir. Kusnoto Setyodiwiryo, Direktur Lembaga Pusat Penyelidikan Alam sebagai realisasi SK Kepala Daerah Tingkat I Bali tanggal 19 Januari 1959 No. 19/E.3/2/4.
      


 Nama “ Eka Karya ” untuk Kebun Raya Bali diusulkan oleh I Made Taman. “ Eka ” berarti Satu dan “ Karya ” berarti Hasil Kerja . Jadi “ Eka Karya ” dapat diartikan sebagai Kebun Raya pertama yang merupakan hasil kerja bangsa Indonesia sendiri setelah Indonesia merdeka. Kebun raya ini dikhususkan untuk mengoleksi Gymnospermae (tumbuhan berdaun jarum) dari seluruh dunia karena jenis-jenis ini dapat tumbuh dengan baik di dalam kebun raya. Koleksi pertama banyak didatangkan dari Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Cibodas, antara lain Araucaria bidwillii , Cupresus sempervirens dan Pinus masoniana . Jenis lainnya yang merupakan tumbuhan asli daerah ini antara lain Podocarpus imbricatus dan Casuarina junghuhniana .
Sejak resmi berdiri, perkembangan Kebun Raya “Eka Karya” Bali selalu mengalami pasang surut dengan silih bergantinya pengelolaan, yaitu antara Dinas Kehutanan Propinsi Bali dan Kebun Raya sendiri. Pengelolaan Kebun Raya sempat dua kali dititipkan pada Dinas Kehutanan Propinsi Bali, yaitu pada 15 Juli 1959 – 16 Mei 1964 dan setelah peristiwa G 30 S/PKI (1966 – 1975). Pengelolaan kebun secara langsung oleh staf kebun raya dilakukan juga selama 2 periode, yakni sejak 16 Mei 1964 – Desember 1965 dan 1 April 1975 hingga sekarang.
Sejak tahun 1964 hingga saat ini, Kebun Raya “Eka Karya” Bali telah mengalami 11 kali pergantian kepemimpinan dengan berbagai pembaharuan. Di bawah kepemimpinan I Gede Ranten, B.Sc. (1975 – 1977), luas kebun raya bertambah hingga 129,2 ha. Perluasannya diresmikan oleh Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia saat itu yaitu Prof. Dr. Ir. Tubagus Bachtiar Rifai pada tanggal 30 April 1976 yang ditandai dengan penanaman Chamae cyparis obtusa.
Di bawah kepemimpinan Ir. Mustaid Siregar, M.Si (2001 – 2008) luas kebun raya bertambah lagi menjadi 157,5 ha. Saat ini (2009 – ) Kebun Raya Bali dipimpin oleh Ir. I Nyoman Lugrayasa. Meski pada awal berdirinya ditujukan untuk konservasi tumbuhan berdaun jarum (Gymnospermae), kini Kebun Raya yang berada di ketinggian 1.250 – 1.450 m dpl dengan suhu berkisar antara 18 – 20°C dan kelembaban 70 – 90% ini berkembang menjadi kawasan konservasi ex-situ tumbuhan pegunungan tropika kawasan timur Indonesia. Statusnya saat ini adalah Unit Pelaksana Teknis Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” Bali (SK Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia No. 1019/M/2002, tanggal 12 Juni 2002) dan Kawasan Dengan Tujuan Khusus sebagai Hutan Pendidikan dan Penelitian bagi peruntukan Kebun Raya “Eka Karya” Bali (UU No. 41 Tahun 2000 serta SK Menteri Kehutanan No. 6311/Kpts-II/2002, tanggal 13 Juni 2002).  Dengan ribuan koleksi tanaman yang tidak hanya berasal dari Indonesia, Kebun Raya “Eka Karya” Bali sebagai sebuah lembaga konservasi ex – situ tumbuhan merupakan tempat yang sesuai untuk kegiatan penelitian, pendidikan dan wisata.
Sumber : http://www.kebunrayabali.com/id/sejarah.htm