Laman

Senin, 25 Juni 2012

Lawakan Pintar Ala Stand Up Comedy


  


"Saya heran kenapa yang namanya kesurupan selalu menyerang cewek-cewek SMA. Kenapa nggak sekali-kali kesurupan itu menyerang cowok-cowok STM. Pasti kayaknya takut tuh jin kesurupan. Atau kenapa yang namanya mistis dan hantu-hantu itu harus selalu gayanya yang tua-tua banget. Kenapa nggak ada yang sekali-kali gaul gitu, kayak gimana Cin? Ayo Bro?"
Kata-kata dan cerita itu yang dilontarkan Mosidik, comic (sebutan untuk peserta atau pelaku stand up comedy—Red) di Comedy Cafe, di Kemang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, membuat sejumlah orang yang sedang enak-enaknya menikmati minum dan makan sedikit tersedak.
Suasana menjadi begitu riuh dengan tawa terbahak-bahak. Selanjutnya tepuk tangan pengunjung memberikan aplaus kepada pria bertubuh subur itu. Gelak tawa gaduh terus terdengar saat Ernest, Ryan, dan Akbar menuturkan cerita lucu.
Ya, mereka adalah orang-orang yang mulai mengobarkan komedi monolog atau lebih dikenal dengan stand up comedy. Sejumlah definisi yang muncul di masyarakat, stand up comedy adalah melawak sendiri dengan berbagai gaya, tampil modis, dan banyak bermain dengan kata-kata.
"Sampai saat ini, definisi itu yang sudah ada. Sebenarnya, kalau ditelaah jauh ke belakang awal munculnya stand up comedy di Eropa dan Amerika komedi seperti ini memang bentuk monolog karena sendiri dan lebih jauh disebut sebagai lawakan yang pintar.
Memainkan kata-kata, spontanitas ide, dan bahannya jauh lebih intelektual. Tidak sekadar lawakan berbentuk kelompok yang menampilkan jenis slapstik," kata Ramon P Tommybens, pemilik Comedy Cafe, sekaligus orang yang mempopulerkan stand up comedy di Indoensia.
Penjelasan dari Ramon itu tidak meleset dengan apa yang disaksikan Warta Kota saat berjam-jam berada di Comedy Cafe maupun acara kompetisi Stand Up Comedy Indonesia Kompas layar kaca. Seluruh bahan yang dijadikan cerita lucu, rupanya hanya sedikit guratan pena disobekan kertas.
Sejurus kemudian, si comic akan bercerita dengan mengalir dari tema yang sebenarnya mendadak muncul hanya sekian jam atau belasan menit sebelum naik ke atas panggung.
Ada yang ceritanya dari pengalaman soal menjalani rumah tangga selama lebih dari lima tahun. Ada pula pengalaman ketika "menembak" cewek untuk jadi pacar atau calon istri.
Bahkan ada yang sedikit menyenggol masalah ras, seperti cerita milik Ernest, yang merasa ada untung-ruginya 
saat dilahirkan sebagai keturunan Tionghoa.

Pembelajaran
Sebagai jenis pertunjukan komedi yang terbilang baru di Indonesia, tema-tema atau bahan stand up comedy sifatnya agak menyerang, menyindir, dan mengungkapkan kekurangan diri si comic.
"Kalau tema-tema itu sebenarnya memang sudah cukup atau sangat biasa di Eropa dan Amerika. Namun, untuk di Indonesia dengan budaya ketimuran yang kental mungkin masih agak sulit. Bisa saja ada pihak yang tersinggung dan tidak terima," kata Ramon.
Hal senada juga diungkapkan oleh Mosidik, Akbar, dan Ernest. Mereka mengaku sedikit khawatir ketika bahan dan tema diceritakan di depan banyak orang akan memancing emosi.
"Secara spontan, kami harus bisa cari banyak bahan dan tema yang jauh lebih universal, Salah satu pilihannya bisa dengan cerita sehari-hari yang pernah dialami atau mengumbar kekurangan diri. Mosidik yang cerita soal orang berbadan gemuk," kata Akbar yang meluncurkan cerita humor bertema pendidikan.
Menurut Ramon, dari sisi komedi, stand up comedy sudah jadi pilihan orang banyak di Indonesia sebagai alternatif hiburan. Hanya saja masih dibutuhkan banyak pembelajaran tentang rasa humor yang baik.
"Kondisi budaya di Indonesia, maka sekarang ini aku masih memberikan banyak mentoring tentang bahan dan tema. Usahakan jangan terlalu frontal atau keras saat menyentil dan menyerang. Sering-sering menghindari yang sifatnya ras dan agama," kata Ramon.
Bahkan saat hadir di depan mahasiswa yang ingin tahu soal komedi ini, Ramon memberikan catatan penting, jangan sebut benda atau bentuk apa pun yang keluar dari seluruh lubang tubuh manusia. Termasuk lubang yang jadi sarana pembuangannya. Hal itu masih dianggap sesuatu yang menjijikkan dan jorok, dan belum cocok untuk kondisi di Indonesia.
Stand up comedy
Stand up comedy adalah seni melawak (komedi) yang disampaikan di depan penonton secara langsung (live). Biasanya sang komedian akan melakukan one man show. Melemparkan lelucon melalui monolog atau statement dalam satu kalimat yang mengandung humor.
Komedian di jalur ini biasanya menulis skrip lawakannya untuk tampil dalam 20-45 menit. Kadang-kadang mereka memakai alat bantu untuk menyampaikan lelucon mereka.
Meskipun stand up comedy, pelawak tidak harus terus menerus berdiri. Beberapa pelawak menyampaikan sambil duduk seperti sedang bercerita pada kita.
Sejarah stand up comedy dimulai pada abad ke-18 di Eropa dan Amerika. Dalam sejarahnya perkembangan stand up comedy juga ditemui di berbagai benua.
Bahkan Malaysia punya seorang stand up comedy terkenal, Akmal Saleh. India punya Jhony Lever dan dilanjutkan Cyrus Broacha. Mereka juga mengadakan The Great Indian Laughter Challenge.
Chris Rock, yang dikenal sebagai aktor komedi di Hollywood, ternyata masuk dalam kategori stand up comedy.
Dalam sejumlah situs, ada tema dalam lawakannya banyak kata-kata yang seharusnya di sensor, rasis, dan seksi. Tapi komedi jenis ini masih disebut sebagai humor cerdas.
Dalam sejumlah situs ditemukan genre stand up comedy bukan hal baru di Indonesia. Dulu ada Taufik Savalas (Alm) dengan acara Comedy Cafe yang pernah tayang di TransTV periode Juli-September 2004.
Ada juga Pepeng yang sambil membawakan acara kuis Jari-Jari menyelipkan humor segar. Disambung dengan Iwel di acara DemoCrazy.
Meskipun belum bisa dikatakan melakukan stand up comedy murni, namun jensi ini sudah jadi awalan di perkembangan stand up comedy di Indoensia kala itu. (cel/wik)